Wednesday, January 29, 2020

Review - Review film dan tulisan

1. Review Film: Jumanji:The next level (2019)

Hasil gambar untuk jumanji

Seri film terbaru Jumanji bisa dikatakan sebagai produksi ulang film yang berhasil. Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) tidak merusak Jumanji (1995), pun begitu dengan film jumanji: The next level yang rilis 4 Desember lalu.

Kali ini, Jumanji: The Next Level bercerita tentang Spencer (Alex Wolff) yang ingin kembali ke gim video Jumanji setelah hubungannya dengan Martha (Morgan Turner) tidak jelas.


Pada Jumanji: Welcome to the Jungle, Spencer mendapat avatar Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) yang merupakan karakter paling kuat. Ia ingin mendapat avatar itu lagi.



Namun sayang, konsol gim Jumanji rusak meski sudah diperbaiki oleh Spencer. Hasilnya, ia tak bisa memilih avatar sesuai keinginannya itu.

Hal serupa terjadi dengan Martha, Fridge (Ser'Darius Blain) dan Bethany (Madison Iseman), yang memutuskan kembali ke Jumanji untuk menolong Spencer.

Sesuai dengan judul film ini, gim Jumanji jadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya akibat kerusakan konsol. Terlebih, kakek Spencer yang bernama Eddie (Danny DeVito) dan temannya Milo (Danny Glover), ikut masuk ke gim dan sulit diajak kerja sama untuk menyelesaikan Jumanji.

Naskah yang kembali digarap oleh Jeff Pinker dan Scott Rosenberg serta dibantu oleh sutradara Jake Kasdan ini terbilang bagus, tak tertebak, dan terasa tak ada yang dipaksakan

Mereka masih menggunakan formula yang sama dari Jumanji: Welcome to the Jungle, yaitu menampilkan adegan menegangkan dan mencampurkan dengan unsur komedi.

Hal itu muncul seperti ketika para avatar mesti menyeberangi tebing lewat jembatan kayu dan tambang yang mudah berayun. Tantangan semakin bertambah ketika mereka harus melewati jembatan rapuh itu sembari dikejar Mandril, sejenis monyet yang ganas.

Di tengah ketegangan, avatar Bravestone yang dipakai oleh Eddie melakukan hal bodoh hingga membahayakan pemain lain.

Namun alih-alih minta maaf, ia malah merasa sebagai orang yang paling berperan menyelamatkan teman-temannya. Kekonyolan sederhana yang mengena.

Ditulis oleh penulis yang sama dan menggunakan pola yang serupa, Jumanji: The Next Level masih memiliki keterkaitan dengan sebelumnya, Welcome to the Jungle. Hal ini membuat penonton ada baiknya menonton film rilisan 2017 itu terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Next Level.

Jumanji The Next Level semakin menarik karena berisi dialog yang rapi, padat, tidak bertele-tele. Selain itu, ada pula berbagai dialog jenaka pengundang tawa.

Meski begitu, ada pula dialog komedi yang gagal mengundang tawa karena penggunaannya yang terlalu sering dan cenderung membuat penonton bosan.

Hal yang patut jadi perhatian Columbia Pictures selaku studio film ini adalah masalah efek visual yang kurang halus di bagian awal. Untuk sekelas studio seperti Columbia, mestinya tak ada masalah terkait efek visual.

Soal akting para aktor, rasanya tak ada yang perlu diragukan, apalagi untuk Johnson (Bravestone), Jack (Sheldon) dan Kevin Hart (Franklin Finbat).

Mereka sanggup memainkan karakter yang berbeda sesuai dengan tokoh pemain yang menggunakan mereka sebagai avatar.

Secara umum, Jumanji The Next Level terbilang patut jadi rekomendasi bagi penonton yang ingin mendapatkan hiburan dan tertawa lepas tanpa harus berpikir keras sembari melepas penat.

2.Review film: Terminator: dark fate
Hasil gambar untuk terminator: dark fate
.

Terminator: Dark Fate adalah sekuel Terminator terbaik setelah Terminator 2: Judgement Day. Sutradara Tim Miller (Deadpool) membuat berbagai keputusan tepat yang menjadikan Dark Fate lebih ganas, lebih menghibur, dan sedikit lebih segar dibandingkan pendahulu-pendahulunya. Meski begitu, Dark Fate tidak melupakan berbagai elemen ikonik seri Terminator sehingga film berdurasi dua jam ini tetap akan terasa familiar bagi penggemar setia
Dark Fate sendiri mengambil setting 24 tahun pasca keberhasilan Sarah Connor (Linda Hamilton), John Connor (Edward Furlong), dan 'Uncle Bob' T-800 (Arnold Schwarzenegger) meledakkan CyberDyne, pencipta Skynet yang merupakan induk para terminator. Aksi mereka berhasil mencegah kiamat (Judgement Day) yang seharusnya terjadi di tahun 1997 akibat Skynet meledakkan nuklir di berbagai penjuru dunia. Namun, kenyataan berikutnya tidak seindah harapan Sarah dan John.
Meski Skynet berhasil dihancurkan, Sarah cs ternyata tidak sepenuhnya mencegah kiamat. Sedikit meminjam elemen dari Terminator 3: Rise of the Machine, apa yang dilakukan Sarah cs hanyalah mencegah Skynet terwujud dan menunda kiamat. Dengan kata lain, perang antara manusia dan mesin akan tetap terjadi di masa depan, baik dengan atau tanpa kehadiran Skynet. Kisah di Dark Fate menegaskan bahwa sebanyak apapun Sarah mencegah kiamat, pada akhirnya hal itu akan terjadi juga.
Kenyataan kelam itu ditandai dengan kehadiran terminator Rev-9 (Gabriel Luna) dari masa depan. Rev-9 adalah cyborg yang mampu membelah diri dengan cara memisahkan exoskeleton-nya dari inner frame. Exoskeleton Rev-9 memiliki kemampuan setara T-1000 sementara inner frame-nya setangguh T-800 yang menjadikannya salah satu terminator paling berbahaya.
Dikirim pengganti Skynet bernama Legion, Rev-9 memiliki misi memburu Daniella Ramos (Natalia Reyes). Seperti John Connor dulu, Daniella diramalkan menjadi pemimpin manusia dalam perang melawan mesin. Untungnya, bantuan dari masa depan juga hadir untuk melindungi Daniella, sama seperti Kyle Reese datang untuk melindungi Sarah Connor di The Terminator atau 'Uncle Bob' melindungi John Connor di Terminator 2: Judgement Day. Pasukan Resistance di masa depan mengirim Grace (MacKenzie Davis), hybrid human-cyborg, untuk melindungi Daniella bersama Sarah Connor.
Dark Fate terasa lebih baik dibandingkan pendahulu-pendahulunya karena Tim Miller tak memaksa Dark Fate untuk berbeda total. Sebaliknya, sutradara Tim Miller menggunakan semua elemen bagus dari film-film Terminator terdahulu dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah produk yang nikmat ditonton. Dark Fate adalah Star Wars: The Force Awakens untuk saga Terminator di mana tidak terasa unik, tetapi tetap mampu membawa franchise ke direksi yang baru. Salah satu elemen terbaik tersebut adalah Sarah Connor. Ya, selama ini kebanyakan orang mengira key ingredient film Terminator adalah kehadiran T-800 di mana ia nyaris selalu menjadi sorotan utama. Padahal, jiwa franchise Terminator adalah Sarah Connor, bukan T-800 ataupun John Connor. Ketika seri Terminator masih digarap James Cameron (Titanic, Avatar), kisah utamanya selalu berpusat pada Sarah yang berusaha melindungi orang-orang di sekitarnya sekaligus mencegah kiamat. Dengan kata lain, tanpa Sarah, tidak akan pernah ada kisah terminator versus manusia. Kehadiran Sarah membuat Dark Fate terasa relatable untuk mereka yang menggemari saga Terminator sejak dulu.
Linda Hamilton sendiri belum kehilangan tajinya dalam memerankan Sarah. Meski dua dekade sudah berlalu sejak terakhir kali ia menjadi Sarah Connor, Hamilton tetap mampu menampilkan Sarah yang tangguh, tegas, dan protektif seperti seorang ibu pada umumnya. Ia berhasil mencuri perhatian di berbagai adegan sekaligus menegaskan bahwa Terminator adalah daerah kekuasaannya, bukan milik Arnold SchwarzeneggerSchwarzenegger, tak lagi menjadi sorotan utama, juga masih handal memerankan cyborg T-800. Walau perawakannya sudah tidak segarang dulu, Schwarzenegger masih mampu menghadirkan T-800 seperti yang kita kenal. Malah, T-800 di Dark Fate adalah salah satu inkarnasi terbaik selain 'Uncle Bob' di Terminator 2: Judgement Day.
Meminjam elemen Terminator: Genisys, T-800 di Dark Fate memiliki karakter manusiawi karena bertahun-tahun mempelajari tingkah laku manusia usai menuntaskan misinya. Bertahun-tahun belajar membawa T-800 ke satu titik di mana ia merasa lebih seperti manusia dibandingkan cyborg. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengadopsi nama manusia, Carl, dan hidup bersama-sama manusia menjadi pedagang gorden.
Untungnya, kemampuan bertarungnya tidak lapuk dimakan waktu seperti T-800 di Terminator: Genisys. Carl bisa memberikan perlawanan hebat kepada Rev-9 yang jauh lebih modern. Pertarungan keduanya menampikan berbagai laga keren yang menghiasi sepertiga terakhir Dark Fate. Bahkan, salah satu bagian mampu membuat mata Play Stop Rewatch berkaca-kaca karena sarat dengan homage ke Terminator 2: Judgement Day
Selain karakter yang keren, salah satu elemen ikonik Terminator yang berhasil diolah kembali oleh Tim Miller adalah kisah besar franchisenya. James Cameron menciptakan franchise Terminator bukan sebagai kisah sci-fi laga semata, tetapi juga drama keluarga. Di tangan ia, kisah Terminator sarat akan elemen-elemen kekeluargaan mulai hubungan ibu dan anak hingga pentingnya figur seorang ayah. Contohnya, Terminator 2: Judgement Day menampilkan hubungan John Connor dan 'Uncle Bob' layaknya seorang anak dan ayah yang bahkan diakui oleh Sarah sendiri di salah satu bagian film.
Drama keluarga itu ditampilkan kembali oleh Tim tanpa elemen-elemen tambahan yang membingungkan layaknya apa yang terjadi dengan Terminator: Genisys. Interaksi Sarah, Daniella, Grace, dan Carl terasa sangat cair dan asyik, layaknya sebuah keluarga yang sudah bertahun-tahun hidup bersama. Sarah menjadi figur ibu, Carl menjadi figur ayah, Grace menjadi figur kakak yang protektif, sementara Daniella adalah si bungsu yang rebel. Setiap kali keempatnya berkumpul, kisah Dark Fate melaju dengan mulus,baik dengan canda tawa maupun laga.
Meski Dark Fate memiliki banyak hal bagus, tetaplah ia gagal untuk melampaui Terminator 2: Judgement Day dengan margin yang tipis. Salah satu penyebab utamanya adalah Rev-9 yang aura mengancamnya tidak sekental T-1000 (Robert Patrick) di Terminator 2: Judgement Day. T-1000 memiliki aura terror berjalan yang menyerupai Mike Myers di film Halloween, sementara Rev-9 lebih mirip tukang gebuk tanpa memberikan kesan berarti. Penyebab lain adalah kurang tereksplornya situasi di masa depan, tempat Grace berasal. Bagaimana Legion bisa muncul menggantikan Skynet menimbulkan berbagai tanda tanya. Dengan kata lain, unsur 'dark fate' di Terminator: Dark Fate kurang tergali dengan baik. Patut diduga Tim Miller dan produser James Cameron menyimpannya untuk sekuel Dark Fate. Mengulang apa yang sudah disebutkan di awal review ini, Terminator: Dark Fate adalah sekuel terbaik dan wajib ditonton. Penggemar baru Terminator tidak akan kesulitan untuk mengikuti kisahnya sementara penonton lama akan puas dengan yang ditampilkannya.
3. Review film : zombieland: Double tapHasil gambar untuk zombieland double tapPenantian selama 10 tahun untuk sekuel Zombieland sedikit terbayar melalui Zombieland: Double Tap. 'Keluarga' nyentrik yang beranggotakan Columbus, Tallahessee, Wichita dan Little Rock ini kembali dengan memberikan sensasi baru kepada penonton, termasuk saya.

Zombieland: Double Tap menceritakan kisah keluarga unik tersebut yang akhirnya tiba di Gedung Putih usai bertahun-tahun hidup di jalan melawan zombie. 'Kestabilan' hidup di Gedung Putih membuat Columbus dan Tallahesse ingin menetap di sana serta menikmati hal-hal kecil bersama Wichita serta Little Rock.

Namun ternyata Wichita dan Little Rock punya keinginan lain serta konflik batin tersendiri. Mereka memutuskan keluar dari Gedung Putih dan kembali ke jalanan.



Permasalahan dimulai ketika Little Rock lebih memilih untuk bersama seorang pria asing yang bertahan hidup hanya dengan gitar dan ganja di tengah serangan para zombie.

Dari keempat pemeran utama Zombieland memang hanya Little Rock (Abigail Breslin) yang terlihat berubah. Columbus (Woody Harrelson), Tallahassee (Jesse Eisenberg) dan Wichita (Emma Stone) terlihat sama seperti pada film pertama, baik dalam penampilan dan karakter.

Namun, perubahan itu sejalan dengan alur cerita serta karakter Little Rock dalam Zombieland: Double Tap. Ia mulai menunjukkan karakter anak remaja normal seperti melawan, ingin menemukan jati diri, dan berkumpul dengan anak-anak seumuran. Hal itu yang membuat Little Rock memilih untuk kabur dari 'rumah'.

Zombieland: Double Tap menawarkan keseruan berbeda dibandingkan seri pertama. Zombieland 10 tahun lalu menampilkan ketegangan dan perjuangan tiap pribadi melawan zombie yang akhirnya membuat Columbus, Tallahassee bisa bersama dengan Wichita dan Little Rock.

Sementara itu, sekuel film tersebut lebih banyak menampilkan permasalahan pribadi para tokoh atau bisa dibilang lebih banyak drama dibandingkan aksi.

Review Film: 'Zombieland: Double Tap'Film 'Zombieland: Double Tap' memiliki konflik layaknya sebuah keluarga. (Foto: dok Sony Pictures)

Kendati demikian, bukan berarti Zombieland 2 tak seseru pendahulunya. Karakter baru seperti Nevada (Rosario Dawson), Madison (Zoey Deutch), Berkeley (Avan Jogia), Albuqueque (Luke Wilson) dan Flagstaff (Thomas Middleditch) menambah bumbu yang membuat film ini layak ditonton.

Karakter Madison dalam Zombieland 2 ini bahkan bisa dibilang lebih menarik perhatian dibandingkan Wichita yang sebelumnya menjadi 'primadona' dalam Zombieland pertama.

Selain itu, penonton juga dihibur dengan humor-humor gelap (dark humour) di sepanjang film. Naskah Zombieland: Double Tap ditulis Paul Wenick dan Rhett Reese, penulis film Deadpool.

Meski seru, saya tetap menyayangkan zombie yang tak banyak mendapat porsi dalam Zombieland: Double Tap. Padahal, film ini memberikan adegan pembuka spektakuler yang tak boleh dilewatkan.

Dalam narasi yang disampaikan karakter Tallahassee menjelaskan bahwa zombie saat ini sudah berubah dan beragam. Penjelasan tersebut secara tak langsung membuat saya mengantisipasi adegan menegangkan melawan zombie.

Namun sayang, antisipasi itu harus saya telan sendiri karena memang Zombieland: Double Tap lebih fokus pada permasalahan pribadi para tokoh.





















































































































































 Oleh sebab itu, penonton sebaiknya menonton Zombieland pertama terlebih dahulu sebelum menyaksikan Zombieland: Double Tap sehingga keseruan aksi dan drama bisa saling melengkapi. Penonton juga dianjurkan masuk bioskop tepat waktu agar tak melewatkan adegan pembukaan Zombieland: Double Tap yang luar biasa namun mungkin sulit diterima oleh perut dan kepala sekelompok orang.

Di akhir film, jangan keburu beranjak. Zombieland: Double Tap memiliki beberapa post-credit scene yang sayang untuk dilewatkan.

Zombieland: Double Tap yang tayang sejak 23 Oktober ini masih bisa disaksikan di seluruh jaringan bioskop Indonesia.

4. Resensi buku "kisah tanah jawa" 2018
Judul Buku : Kisah Tanah Jawa 
Penulis : Team @ksahtanahjawa dan Dapoer Tjerita (Mada Zdan (Mbah KJ) 
dan Bonaventura D. Genta 
Retro-cogniser : Hari Hao 
Editor : Ry Azzura 
Desainer Sampul : Rezky Mahangga 
Ilustrator isi : Day 
Penerbit Gagas Media 
Cetakan Pertama 2018, 250 halaman 

Sejak zaman dahulu kala, nenek moyang kita menganut paham animism (kepercayaan bahwa roh (jiwa) itu tidak hanya berada pada makhluk hidup, tetapi juga pada benda-benda tertentu) dan dinamisme (kepercayaan yang menyakini bahwa semua benda-benda yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan ghaib). Setidaknya hal inilah yang aku ketahui sewaktu belajar sejarah di bangku sekolah dahulu. Seperti yang kita ketahui pula bahwa bukan hanya manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Ada makhluk lainnya yang ada di sekitar kita. Tidak mengherankan jika banyak kejadian mistis, yang kadang tidak bisa dicerna oleh akal sehat, terjadi di sekitar kita. 

Kita juga tentunya tahu bahwa Indonesia, selain kaya akan hasil alam, juga kaya akan kisah mistis. Coba saja ingat-ingat tentang banyaknya kisah urban legend, sampai dengan banyaknya kasus kesurupan. Menarik. Sungguh menarik. 

Setiap daerah di Indonesia memiliki kisah mistisnya masing-masing. Pulau Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia pun tentunya memiliki banyak kisah mistis. Hal inilah yang diulas dalam buku KISAH TANAH JAWA ini. Sejak kecil aku sering mendengar tentang jembatan yang dibuat dari kepala anak-anak biar kokoh, Genderuwo, Kolor Ijo, Nyi Roro Kidul, Lawang Sewu, sampai kisah Roro Jonggrang dan seribu candi yang dibangun dalam semalam. Berbekal rasa ingin tahu lebih banyak (penasaran) maka aku pun memutuskan membaca buku Kisah Tanah Jawa ini. 

Jadi, buku Kisah Tanah Jawa ini bisa dibilang buku non fiksi layaknya sejarah yang menceritakan hal-hal mistis di Pulau Jawa. Di akhir buku kita akan disuguhkan beberapa cerita msteri beberapa kota/lokasi di Pulau Jawa. Kisah Tanah Jawa ini merupakan hasil investigasi mitos dan mistis oleh team @kisahtanahjawa di antaranya Mada Zidan, Bonaventura D. Genta, dan Hari Hao. Pendekatan yang digunakan adalah RETROKOGNISI yang artinya (aku tahu setelah googling) persepsi akan kejadian masa lampau atau bisa dikatakan indera keenam untuk mengetahu kejadian di masa lalu. 

Setelah membaca buku ini, aku dengan tegas mengatakan SUKA buku ini. Banyak hal-hal yang baru aku ketahui. Pembahasannya dibagi per bab yang menambah keasyikan membaca buku ini. Pembagian bahasan per bab membuat pembahasan lebih focus dan lebih gereget. 

Beberapa hal yang dibahas dalam buku ini di antaranya: 

- Nafas Tiang Pancang. Dalam bab ini dibahas mengenai pembangunan dengan tumbal nyawa. Bebepa bangunan yang dibahasa adalah Stasiun Tugu, Jembatan Kereta Api Sungai Serayu, Jembatan Cirahong, dan bangunan lainnya. Dalam proses pembangunan biasanya tidak berjalan dengan lancar. Selalu ada kendala atau selalu timbul masalah karena ada makhluk ghaib yang terganggu. Oleh karena itu, biasanya tumbal nyawa selalu diminta (disarankan) oleh orang pintar (dukun). Salah satu yang paling membuatku merinding adalah rombongan pemain lengger yang dikorbankan dalam pembangunan salah satu tiang pancang jembatan kereta api sungai Serayu. 

- Penyedap Komposisi Dosa. Bagian ini membahas berbagai macam penglaris yang (semuanya) menjijikkan dan bikin mual. Apalagi ilustrasi yang disertakan semakin menambah rasa mual tersebut. Ada jin khodam, ada sosok pocongan, ada yang menggunakan kain kafan, rebusan celana dalam. Selain menjijikkan, bahkan beberapa meminta timbal balik kepada penggunanya. Hih! 

- Harta Berujung Petaka. Bab ini membahas mengenai ritual pesugihan agar kaya dengan cara instan (dan tentu saja mempraktikkan ilmu hitam). Ada babi ngepet, Pesughan Sate Gagak, Buto Ijo, Nyi Blorong, Gunung Kawi, dan banyak lagi yang lainnya. Beberapa hal (contohnya Pesugihan Gunung Kawi) sebenarnya bukanlah praktik sesat, namun banyak yang mempelintirnya sehingga pebuh kesesatan dan dimanfaatkan oleh jin yang senang menyesatkan manusia. 

- Merapal Kata Terlarang. Siapa sih yang tidak pernah mendengar istilah, “Cinta Ditolak, DUkun Bertindak”. Bagian ini memang focus membahas ajian pelet yang berujung petaka. Awal mendengar lagu “Jaran Goyang dan Semar Mesem” aku tidak tahu bahwa itu adalah pelet. Aku pun baru tahu ada pelet yang menggunakan darah menstruasi dan rambut kemaluan. Menjijikkan sih memang. Menakutkan sih dan hasilnya pasti tidak berakhir bahagia. Nyatanya hal ini ada di sekitar kita. 

Ada bab yang khusus membahas mengenai “Kejawen dan Kedatangan Imprealisme Awal merebak ilmu hitam”. Bab ini salah satu bagian yang aku sukai. Dari penjelasan mengenai Kejawen, aku akhirnya mengetahui makna sebenarnya Kejawen yang makna sebenarnya telah diselewengkan dan malah dimaknai negative di zaman sekarang ini. 

Kejawen hakikatnya adalah suatu tata cara atau aturan di dalam berkehidupan, baik kepada sesame manusia, alam, para leluhur, dan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dalam bab ini dibahas pula mengenai makna sesaji, bunga sesaji, konsep sandang-pangan-papan, dan bangunan Jawa. Sayangnya, kedatangan kaum penjajah lah yang sebenarnya membuat praktik ilmu hitam (terutama di Jawa) semakin merebak dan akhirnya mengubah makna dari Kejawen tersebut. 

Hal lain yang dibahas dalam buku ini adalah “Renungan” yang isinya pengingat bahwa sifat dasar manusia itu cenderung tidak mau susah payah yang akhirnya menuntun pad acara singkat dan akhirnya tidak paham kepada siapa mereka meminta tolong. Kemudian ada kecurigaan bahwa ada unsur kesengajaan untuk melencengkan makna yang sesungguhnya dari budaya Jawa itu sendiri. 

5.Resensi buku "Latihan soal mantappu jiwa"2019

Image result for mantappu jiwa buku

Penulis           : Jerome Polin Sijabat
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan keempat,  Agustus 2019
Halaman        : 224 halaman
ISBN                : 9786020632421

Ini bukan novel atau fiksi. Buku ini merupakan kuncer atau kumpulan cerita penulisnya yang saat ini masih menjalani study S1-nya  di Waseda University Japan jurusan Matematika Terapan.  Dia bisa sekolah di sana, berkat perjuangannya meraih beasiswa.  Dan…. beasiswa S1 luar negeri ini masih sangat jarang, kalau S2 luar negeri lebih banyak. Terus, dari ribuan peserta yang ikut mendaftar, hanya beberapa orang saja yang diterima dan lolos dapat beasiswa. Kebayang dong susahnya seperti apa.  Pasti susah banget.  Namun Jerome membuktikan, berkat perjuangan dan kerja kerasnya, dia bisa mewujudkan impiannya.  Jadi adik-adik sekalian yang sedang berburu beasiswa kuliah di luar negeri, bisa jadi butuh baca buku ini.   Jerome, akan berbagi cerita proses bagaimana perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut.  Selain itu, Jerome juga banyak menjuarai lomba-lomba, lomba OSN Matematika salah satunya.  Penasaran kan gimana ceritanya?  Silahkan baca bukunya.  Yang saya salut ternyata  Jerome ini selain pintar, sangat rajin sekali latihan, latihan, dan latihan.  Latihan di mana saja, kapan saja. Ini sih keren, latihannya Matematika pula, mantaaap.
Beberapa kalimat-kalimat favorit saya dalam Buku Latihan Soal MANTAPPU JIWA:
  1. Seperti ada banyak hitungan menuju angka 2, mereka bilang, ada banyak jalan menuju Roma.  (halaman 12)
  2. Rasa percaya diri terlalu tinggi yang sebenarnya beda tipis dengan kesombongan, tidak akan membawa kita ke mana-mana #rumusjerome (halaman 22)
  3. Aku tahu mimpiku layak dibayar sebegitu tinggi oleh keringat dan kerja keras.  Aku tahu mimpiku layak diperjuangkan.  Dan tidak ada yang bisa memperjuangkannya, selain oleh diriku sendiri #rumusjerome (halaman 26)
  4. Tapi, setiap selesai berdoa, selalu ada suara yang mengingatkanku [JANGAN BERHENTI DULU, JANGAN MENYERAH DULU] Aku berpikir apa mungkin usahaku yang masih kurang? Tapi, jika aku berhenti dan menyerah untuk ikut lomba, selamanya aku tidak akan punya kesempatan untuk menang.  (halaman 27)
  5. … Dari dulu saya ingin jadi berbeda dari orang lain.  Selain belajar di sekolah, saya berusaha menguasai banyak hal lain seperti alat musik, olahraga, nyanyi… Jadi, meskipun saya belajar matematika, saya yakin dapat bekerja di lapangan dan di balik meja sekaligus karena saya yakin dapat menjadi matematikawan yang berbeda dari matematikawan lain.”  (halaman 58-59)
  6. Memang yang namanya belajar SKS: Hafal sebentar terus lupa. Pengetahuannya nggak awet di kepala #rumusjerome (halaman 74)
  7. Aku belajar untuk jangan takut mencoba sesuatu yang baru, meski kelihatannya sulit sekalipun.  Karena kita sebagai manusia tidak ada yang tahu masa depan #rumusjerome (halaman 94)
  8. Pada awalnya, kita membuat mimpi.  Tapi setelah itu, mimpi yang akan “membuat” kita.  Mimpi tidak dapat diwujudkan dengan instan, melainkan dengan air mata, doa, keringat, konsistensi, determinasi, dan kerja keras.  (halaman 99)
  9. Ada hal yang tidak bisa kita kontrol karena kita adalah manusia yang terbatas.  Jadi tugas kita adalah melakukan yang terbaik lalu menyerahkan sisanya kepada Tuhan #rumusjerome (halaman 114)
  10. Aku sadar belajar nggak akan pernah ada ruginya.  Kalau pun kita tidak bisa menggunakan ilmunya saat ini, bukan mustahil kita akan membutuhkannya di masa yang akan datang #rumusjerome (halaman 127)
  11. Karena nyatanya menunggu dan mencoba mengerti  rencana Tuhan itu tidak pernah mudah #rumusjerome (halaman 134)
  12. Apa yang kelihatan mustahil jika kita coba kerjakan dengan tekun, bisa menjadi kenyataan #rumusjerome (halaman 154)
  13. Gimana cara Jeromi bagi waktunya? Jadi, di keluargaku, kami cuma boleh main game pada hari jumat, sabtu dan minggu.  Selebihnya,  dilarang.  Maksudnya game di sini adalah seperti permainan komputer, PS, atau Gameboy.  Nah, jadi untuk senin-kamis, kami fokus belajar mengembangkan skill… (halaman 163)
  14. Mungkin jalannya tidak semulus orang lain, atau mungkin hasilnya tidak sebaik orang lain, tetapi setidaknya kita bisa menghasilkan sesuatu. Dan sebagai awal, itu sudah cukup baik.  #rumusjerome (halaman 171)
  15. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dilakukan sendiri.  Aku butuh orang untuk mengajari aku, aku butuh orang untuk mendukung aku.  Dan aku menyadari satu hal, yaitu bahwa seseorang bisa merasa senang jika mereka ikut dilibatkan dan usaha mereka dihargai dalam mencapai sesuatu.  #rumusjerome(halaman 186)

No comments:

Post a Comment